Senin, 30 November 2009

BERSIHKAN DIRI DENGAN TOBAT

Manusia tempat salah dan lupa. . . . . . . . .

Demikian fitrah manusia yang Allah SWT tentukan. Namun, dengan kasih-sayang-Nya, Allah pun memberi jalan atau petunjuk agar manusia tidak terus melakukan kesalahan dan membukakan pintu ampunan dan tobat. Rasulullah Saw menegaskan: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan (dosa) dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat (dari kesalahan tersebut)."

Tobat (taubat) adalah memohon ampun kepada Allah SWT setelah melakukan kesalahan atau kemaksiatan. Allah SWT akan menerima tobat hamba-Nya dan sangat menyukai mereka yang bertobat :

  1. "Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat” (QS. An-Nashr: 3).
  2. "Dan Akulah yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 160).
  3. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri" (QS. Al-Baqarah: 222).

Tobat merupakan pengakuan dosa sekaligus permohonan ampunan kepada Allah SWT. Dalam Islam, pengakuan dosa dan permohonan ampunan itu tidak memerlukan perantara, lapi langsung kepada Allah SWT. Allah SWT selalu membuka pintu tobat bagi para hamba-Nya yang khilaf.

"SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat" (HR. Muslim).

"Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 133).

Bangsa-bangsa terdahulu, seperti kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, dan sebagainya, dibinasakan Allah SWT begitu mereka berbuat dosa atau mengingkari hukum Allah. Namun, bagi umat Nabi Muhamad Saw, Allah SWT memberikan “toleransi” yang luar biasa. Allah terus memberi kesempatan bagi kita, umat Islam, untuk bertobat dan kembali kepada jalan-Nya.

RENTETAN peristiwa gempa, banjir, dan bencana lainnya di negeri ini, merupakan adzab, peringatan, dan ujian bagi umat Islam agar kembali ke jalan-Nya. Allah SWT “hanya” membinasakan sebagian kecil bangsa ini, demi menunjukkan kasih sayang-Nya kepada sebagian besar bangsa yang selamat: agar segera kembali kepada jalan-Nya; melaksanakan syariat Islam di segala bidang kehidupan, maka bangsa ini, umat Islam, atau kita harus segera dan terus bertobat, yakni dengan Taubatan Nasuha, tobat yang murni, ikhlas, dan sungguh-sungguh.

"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'” (QS. At-Tahrim: 66).

Tobat adalah pernyataan menyesal sekaligus memohon ampunan dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan dan dosa. Rasulullah Saw pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Apakah penyesalan itu tobat?". "Ya!" jawab Rasulullah (H.R. Ibnu Majah).

Syarat Diterima Tobat

Tidak semua tobat diterima Allah SWT. Menurut jumhur ulama, tobat yang diterima yaitu harus memenuhi syarat :

  1. perasaan menyesal yang mendalam,
  2. berhenti sama sekali dari perbuatan dosa, dan
  3. bertekad kuat tidak mengulangi kesalahan.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah mengibaratkan orang yang bertobat, namun mengulangi dosanya, seperti “menertawakan Tuhannya”. Dalam keseharian dikenal istilah “tobat sambal”, yakni tobat seperti memakan sambal; mengeluh atau menyesal telah memakannya karena merasa pedas, namun terus dimakan dan diulangi lagi.

Jika sebuah kesalahan atau dosa berkaitan dengan manusia, maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan, yakni meminta maaf kepada yang bersangkutan, selain mohon ampun kepada Allah SWT. Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al Utsaimin berkata: “Adapun bila dosa tersebut antara kamu dengan manusia, apabila berupa harta, harus menunaikannya kepada pemiliknya dan tidak diterima tobatnya kecuali dengan menunaikannya. Contohnya, kamu mencuri harta dari seseorang lalu kamu bertobat dari hal itu, maka kamu harus menyerahkan hasil curian tersebut kepada pemiliknya. Juga contoh lain, kamu mangkir dari hak seseorang, seperti kamu punya tanggungan hutang lalu mangkir darinya, kemudian kamu bertobat, maka kamu harus pergi kepada orang yang bersangkutan dan memeberikan pengakuan dihadapannya sehingga ia mengambil haknya.
Apabila orang tersebut telah meninggal dunia, maka kamu berikan kepada ahli warisnya. Apabila tidak tahu atau ia menghilang darimu dan kamu tidak mengetahui keberadaannya maka bersedekahlah dengan harta tersebut atas namanya agar bebas dari (kewajiban) tersebut dan Allah lah yang mengetahui dan menyampaikannya kepadanya.
Apabila kemaksiatan yang kamu lakukan terhadap orang lain berupa pemukulan atau sejenisnya, maka datangilah ia dan mudahkanlah ia untuk membalas memukul kamu seperti kamu memukulnya. Apa bila yang dipukul punggung maka punggung yang dipukul dan bila kepala atau bagian tubuh lainnya maka hendaklah ia membalasnya.”

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita ampunan dan bimbingan agar kita mampu bertobat dan tidak melakukan kemaksiatan................ Amin!

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar